Diagnosis Pre-Eklampsia

Pre Eclampsia

Pre Eclampsia

Diagnosis pre-eklampsia ditegakkan berdasarkan :
1. peningkatan tekanan darah yang lebih besar atau sama dengan 140/90 mmHg
2. atau peningkatan tekanan sistolik > 30 mmHg atau diastolik > 15 mmHg
3. atau peningkatan mean arterial pressure >20 mmHg, atau MAP > 105 mmHg
4. proteinuria signifikan, 300 mg/24 jam atau > 1 g/ml
5. diukur pada dua kali pemeriksaan dengan jarak waktu 6 jam
6. edema umum atau peningkatan berat badan berlebihan

Tekanan darah diukur setelah pasien istirahat 30 menit (ideal). Tekanan darah sistolik adalah saat terdengar bunyi Korotkoff I, tekanan darah diastolik pada Korotkoff IV.

Bila tekanan darah mencapai atau lebih dari 160/110 mmHg, maka pre-eklampsia disebut berat. Meskipun tekanan darah belum mencapai 160/110 mmHg, pre-eklampsia termasuk kriteria berat jika terdapat gejala lain seperti disebutkan dalam tabel.

Kriteria Diagnostik Preeklampsia Berat
1. Tekanan darah sistolik > 160 mmHg atau diastolik > 110 mmHg.
2. Proteinuria = 5 atau (3+) pada tes celup strip.
3. Oliguria, diuresis < 400 ml dalam 24 jam
4. Sakit kepala hebat dan gangguan penglihatan
5. Nyeri epigastrium atau kuadran kanan atas abdomen atau ada ikterus
6. Edema paru atau sianosis
7. Trombositopenia
8. Pertumbuhan janin yang terhambat

Pre-eklampsia dapat terjadi pada usia kehamilan setelah 20 minggu, atau bahkan setelah 24 jam post partum.

Bila ditemukan tekanan darah tinggi pada usia kehamilan belum 20 minggu, keadaan ini dianggap sebagai hipertensi kronik.

Pre-eklampsia dapat berlanjut ke keadaan yang lebih berat, yaitu eklampsia.
Eklampsia adalah keadaan pre-eklampsia yang disertai kejang.

Gejala klinik pre-eklampsia dapat bervariasi sebagai akibat patologi kebocoran kapiler dan vasospasme yang mungkin tidak disertai dengan tekanan darah yang terlalu tinggi.
Misalnya, dapat dijumpai ascites, peningkatan enzim hati, koagulasi intravaskular, sindroma HELLP (hemolysis, elevated liver enzyme, low platelets), pertumbuhan janin terhambat, dan sebagainya.

Bila dalam asuhan antenatal diperoleh tekanan darah diastolik lebih dari 85 mmHg, perlu dipikirkan kemungkinan adanya pre-eklampsia membakat.
Apalagi bila ibu hamil merupakan kelompok risiko terhadap pre-eklampsia.

Selain anamnesis dan pemeriksaan fisik, pada kecurigaan pre-eklampsia sebaiknya diperiksa juga :
1. pemeriksaan darah rutin serta kimia darah : ureum-kreatinin, SGOT, LD, bilirubin
2. pemeriksaan urine : protein, reduksi, bilirubin, sedimen
3. kemungkinan adanya pertumbuhan janin terhambat, konfirmasi USG bila ada.
4. nilai kesejahteraan janin (kardiotokografi).

Komplikasi pre-eklampsia berat / eklampsia
- ablatio retinae
- DIC
- gagal ginjal
- perdarahan otak
- gagal jantung
- edema paru

Impending eclampsia
Pre-eklampsia berat disertai satu atau lebih gejala : nyeri kepala hebat, gangguan visus, muntah-muntah, nyeri epigastrium, kenaikan tekanan darah progresif. Ditangani sebagai kasus eklampsia.

Published in: on Mei 8, 2009 at 12:53 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Anemia Pada Ibu Hamil

Anemia pada Ibu hamil

Anemia pada Ibu hamil

Pengertian
Anemia adalah penyakit kurang darah yang dapat melemahkan tubuh yang disebabkan kekurangan sel darah merah. Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar Haemoglobin (Hb) dalam darahnya kurang dari 12 gr % (Wiknjosastro, 2002). Sedangkan anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin dibawah 11gr % pada trimester I dan III atau kadar < 10,5 gr% pada trimester II ( Saifuddin, 2002).

Etiologi
Kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan akut bahkan tidak jarang keduanya saling berinteraksi ( Saifuddin, 2002). Menurut Mochtar (1998) penyebab anemia pada umumnya adalah sebagai berikut :
1. kurang gizi ( malnutrisi )
2. kurang zat besi dalam diit
3. Malabsorpsi
4. kehilangan darah banyak seperti persalinan yang lalu, haid dan lain-lain.
5. Penyakit-penyakit kronik seperti TBC paru, cacing usus, malaria, dan lain-lain.

Faktor Resiko Anemia pada Ibu Hamil
1. Umur < 20 tahun atau > 35 tahun
2. Pendidikan rendah
3. Perdarahan akut
4. Pekerja berat
5. Konsumsi tablet penambah darah < 90 butir
6. Makan < 3 kali dan makanan yang dikonsumsi kurang zat besi

Gejala Anemia pada Ibu Hamil
Gejala anemia pada kehamilan yaitu ibu mengeluh cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, malise, nafsu makan menurun (anoreksia), konsentrasi hilang, sesak nafas dan kadar Hb rendah < 11 gr %.
Klasifikasi Anemia pada Ibu Hamil
Klasifikasi anemia dalam kehamilan menurut Mochtar (1998), adalah sebagai berikut :
1. Anemia Defisiensi Besi
Adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam darah. Pengobatannya yaitu keperluan zat besi untuk wanita hamil dan dalam laktasi yang dianjurkan adalah pemberian tablet besi. Hasil anamnesa didapat keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang dan keluhan mual muntah pada hamil muda. Pada pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan alat sachli, dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan yaitu trimester I dan III. Hasil pemeriksaan Hb dengan sachli dapat digolongkan sebagai berikut :
a. Hb 11 gr% : tidak anemia
b. Hb 9-10 gr% : anemia ringan
c. Hb 7-8 gr% : Anemia sedang
d. Hb < 7 gr% : anemia berat.
Kebutuhan zat besi pada wanita hamil yaitu rata-rata mendekati 800 mg. Kebutuhan ini terdiri dari sekitas 300 mg diperlukan untuk janin dan plasenta serta 500 mg lagi digunakan untuk meningkatkan massa haemoglobin maternal. Kurang lebih 200 mg lebih akan dieksresikan lewat usus , urin dan kulit.
2. Anemia Megaloblastik
Adalah anemia yang disebabkan oleh karena kekurangan asam folik, jarang sekali karena kekurangan vitamin B12.
3. Anemia Hipoplastik
Adalah anemia yang disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang, membentuk sel darah merah baru. Untuk diagnostik diperlukan pemeriksaan-pemariksaan diantaranya adalah darah tepi lengkap, pemeriksaan pungsi eksternal dan pemeriksaan retikulosi.
4. Anemia Hemolitik
Adalah anemia yang disebabkan penghancuran atau pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya. Gejala utama adalah anemia dengan kelainan-kelainan gambaran darah, kelelahan, kelemahan, serta gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organ-organ vital.

Dampak Anemia pada Ibu Hamil, Bersalin dan Nifas
1. Trimester I akan dapat mengakibatkan : Abortus, Missed Abortus dan kelainan kongenital
2. Trimester II dan III dapat menyebabkan : Persalinan prematur, perdarahan antepartum, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, asfiksia intrauterin sampai kematian, BBLR, mudah terkena infeksi, IQ rendah dan bahkan bisa mengakibatkan kematian.
3. Saat inpartu, anemia dapat menimbulkan gangguan his, janin akan lahir dengan anemia, inertia, atonia, partus lama, perdarahan atonis, dan persalinan dengan tindakan yang disebabkan karena ibu cepat lelah.
4. Saat post partum anemia dapat menyebabkan : tonia uteri, retensio plasenta, pelukaan sukar sembuh, mudah terjadi febris puerpuralis daya tahan terhadap infeksi dan stress kurang, produksi ASI rendah, dan gangguan involusio uteri.

Cara Mencegah Anemia pada Ibu Hamil
1. Makanlah makanan yang kaya akan sumber zat besi secara teratur.
2. Makanlah makanan yang kaya sumber vitamin C untuk memperlancar penyerapan zat besi.
3. Jagalah lingkungan sekitar agar tetap bersih untuk mencegah penyakit infeksi dan penyakit cacingan.
4. Hindari minum teh, kopi, susu coklat setelah makan karena dapat menghambat penyerapan zat besi.
5. Minumlah pil penambah darah secara teratur.

Sumber :

Bobak. 2005. Keperawatan Maternitas. Jakarta : EGC
http://bumikupijak.com/index.php
http://ridwanamiruddin.wordpress.com

Published in: on Mei 2, 2009 at 9:42 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.